Revenue

Sejarah Singkat

PMI Kota Surakarta merupakan salah satu dari 5 PMI Pelopor yakni Surabaya, Yogyakarta, Semarang dan Bandung yang berdiri 7 bulan setelah PMI Pusat berdiri. PMI Kota Surakarta diketuai pertama kali oleh dr. KRT. Padmonegoro. Sejak berdirinya, PMI kota Surakarta telah mengalami perpindahan beberapa kali. Pada tahun 1946 – 1949 bermarkas di hotel Yuliana yang sekarang telah menjadi markas Polisi Militer. Pada tahun 1949 – 1951 di nDalem Padmonegaran yang merupakan kediaman dari dr. KRT.

Padmonegoro yang berada di jalan Veteran Gading, pada tahun 1951 – 1977 di gedung Societiet Surakarta ( Sekarang menjadi Monumen Pers Surakarta ). Kemudian pada tahun 1977 – 1986 di komplek RSU Moewardi Kota Surakarta dan pada akhirnya pada tahun 1986 hingga sekarang di Jalan Kol. Soetarto No 58, Jebres, Surakarta.

PMI Kota Surakarta pada saat ini diketuai oleh Susanto Tjokrosoekarno untuk periode 2016-2021. Dalam kesehariannya PMI Kota Surakarta terbagi menjadi dua bagian yakni UDD ( Unit Donor Darah ) dan Unit Markas yang keduanya saling bahu - membahu dalam melaksanakan kegiatan kepalangmerahan dengan SDM Sebanyak ± 150 staff dan diperkuat oleh Relawan Sebanyak 6674 Orang meliputi Tenaga Sukarela 1130 Orang, Korps Sukarela 1583 Orang, dan PMR 3961 Orang.

VISI & MISI

VISI
PMI yang berkarakter, profesional, mandiri dan dicintai masyarakat

MISI

  • Menjadi organisasi kemanusiaan terdepan yang memberikan layanan berkualitas melalui kerja sama dengan masyarakat dan mitra sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
  • Meningkatkan kemandirian organisasi PMI melalui kemitraan strategis yang berkesinambungan dengan pemerintah, swasta, mitra gerakan dan pemangku kepentingan lainnya di semua tingkatan
  • Meningkatkan reputasi organisasi PMI di tingkat Nasional dan Internasional
Revenue
Revenue

Prinsip Dasar Gerakan Palang Merah & Bulan Sabit Merah Internasional

Prinsip yang menekankan Kegiatan Kemanusiaan dalam hal memberikan bantuan tanpa diskriminasi kepada para korban perang, mencegah, dan mengurangi penderitaan manusia dimana pun dengan memanfaatkan kemampuannya, baik secara nasional maupun internasionai.
Prinsip yang menekankan Kegiatan Kemanusiaan menyamakan dan tidak membedakan atas dasar kebangsaan, ras, agama, status, ataupun pandangan politik. Tujuannya meringankan penderitaan individu dan hanya membedakan korban menurut keadaan kesehatannya sehingga prioritas diberikan kepada korban yang keperluannya paling mendesak.
Prinsip yang menekankan Kegiatan Kemanusiaan dalam rangka menjaga kepercayaan para pihak dengan tidak berpihak di dalam perselisihan atau terlibat dalam kontroversi yang bersifat politis, rasial, keagamaan, atau ideologis.
Prinsip yang menekankan Kegiatan Kemanusiaan yang mandiri. Perhimpunan Nasional, yang melakukan jasa-jasa kemanusiaan dan membantu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta tunduk pada hukum nasional di negaranya, harus selalu mempertahankan kemandiriannya sehingga mereka setiap saat dapat bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip Gerakan.
Prinsip yang menekankan Kegiatan Kemanusiaan bersifat sukarela dan tidak bermaksud sama sekali untuk mencari keuntungan.
Hanya dapat didirikan satu perhimpunan palang merah atau bulan sabit merah nasional di dalam suatu negara. Palang merah atau bulan sabit merah tersebut harus terbuka bagi semua orang dan harus melaksanakan pelayanan kemanusiaannya di seluruh wilayah negara.
Anggota-aggota gerakan Kegiatan Kemanusiaan diakui di seluruh negara. Masing-masing negara memiliki status atau kedudukan yang sama dan berbagi tanggung jawab dan kewajiban yang sama guna saling membantu di seluruh dunia.
PMI Kota Surakarta pada saat ini diketuai oleh Susanto Tjokrosoekarno untuk periode 2016-2021. Dibantu oleh para tokoh-tokoh di Surakarta, pengurus PMI Kota Surakarta sebagian besar adalah seorang pengusaha. Seperti Bapak H.Gareng S. Haryanto,MT, ST., Bapak Sumartono Hadinoto, Bapak Eko Prasetyo, SE dan masih banyak lainnya.
Revenue